Kamis, 12 Desember 2013

mewarnai 1

eiii... ada kue lapisnya, lhoh!

Motorik halus dg. mouse komputer di program paint


Lomba Blog Kampanye Sadar Zakat Melalui Blog oleh FLP Wilayah Aceh dan Baitul Mal Aceh

Share info dan mohon dukungan atas kuikutsertaan saya, man-teman... :)

Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Aceh bekerjasama dengan Baitul Mal Aceh menggelar lomba Blog KAMPANYE SADAR ZAKAT MELALUI BLOG 2013.
PERSYARATAN LOMBA BLOG:
  1. Tema: “Andai Aku Menjadi Amil Zakat
  2. Lomba terbuka untuk umum, dan TIDAK diperuntukkan bagi pengurus dan anggota FLP Aceh
  3. Ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar
  4. Tulisan tidak diperkenankan memuat unsur SARA
  5. Tulisan harus karya asli, bukan hasil jiplakan/saduran
  6. Tulisan belum pernah dipublikasi di media cetak, elektronik dan online, dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain
  7. Peserta tidak diperkenankan mendaftar lebih dari 1 postingan-url/link-tulisan (salah satu)
  8. Bebas pakai blog engine/platform apa saja.
  9. Peserta wajib memasang banner lomba sebagai tanda keikutsertaan lomba blog.
  10. Kirim url/link tulisan ke alamat email lombablogzakat@yahoo.com dan cc ke: flpaceh@gmail.com
  11. Pada judul email diisi dengan format [Judul] [Nama Lengkap Peserta] sedangkan di bagian isi email cukup diisi dengan link/url naskah
  12. Peserta wajib mem-follow twitter @Flpaceh dan @baitulmalaceh
  13. Share judul dan link naskah di twitter dengan mention ke @FlpAceh dan hastag #LombaBlogFLPAceh
  14. Keputusan juri mengikat, tidak dapat diganggu gugat, dan tidak ada surat menyurat.
PERIODE LOMBA:
Batas akhir pengiriman URL ke email panitia tanggal 15 Desember 2013 pukul 23:59 WIB. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 22 Desember 2013 di acara Seminar Motivasi Menullis Untold Stories of Writers II, juga diumumkan di www.flp-aceh.net.
HADIAH
Juara 1 hadiah senilai Rp 700.000,-
Juara 2 hadiah senilai Rp 500.000,-
Juara 3 hadiah senilai Rp 300.000,-
Pertanyaan seputar lomba bisa dikirim ke email lombablogzakat@yahoo.com.
Acara ini dipersembahkan oleh Forum Lingkar Pena Wilayah Aceh.

Selasa, 10 Desember 2013

Dibalik kesalahan orang lain (Hadiah kecil ULTAH ke-4 PERNIKAHAN)

Pagi itu saya lagi bad mood. Saya membangunkan suami dengan sedikit anarkis. Sialnya, dia susah sekali untuk membuka mata. Memang sebelumnya dia (lagi-lagi) harus begadang menyelesaikan kerjaannya. Biasanya sih saya menepuk-nepuk pelan kakinya sambil membawakan segelas air segar, menyerahkan gelas tsb. kemudian kalau pas lagi baik hati ya akan menungguinya menghabiskan air, kalau tidak ya membiarkannya memegang gelas sambil (masih) merem. Jadi mau tak mau dia akan berdiri lalu menaruh gelas, dan bangun. Namun pagi itu, demi mengikuti kejelekan mood, saya mengguncang keras badannya sambil memanggil namanya keras-keras. Tak juga bangun, kutepuk-tepuk kasar kakinya. EH, GA NDANG BANGUN? Kuberanikan diri melakukan sesuatu yang takpernah kulakukan padanya... Kucubiti kakinya sambil masih berteriak!

Suami berhasil bangun. Tapi bisa ditebak, dia ikut marah!
Saya mendapat balasan yang setimpal atas kemarahannya.
Dan saya memilih untuk diam saja. Takut.

Saat dia mendirikan sholat, saya mengevaluasi diri. Kemarahan yang jarang saya terima ini, sebenarnya bersumber dari sifat buruk saya. Saya sedang membiarkan sifat ego dan sok tahu saya. Saya merasa dialah yang salah. Udah tau waktunya mendekati shubuh, dia malah beranjak tidur. Salahnya lagi adalah, dia tak mau sgera menuruti saya untuk bangun dan sholat shubuh.

Tiba-tiba saya teringat sesuatu. Beberapa jam yang lalu, saya terbangun sejenak (nglilir) karena kepala saya digerakkan oleh orang lain. Sebuah bantal diselipkan di bawah kepala saya. Memang saat menjelang tidur, saya harus berbagi bantal dengan Alisha. Karena bantal saya digunakan suami, ditumpuk di atas bantalnya sendiri. Saya tak sampai hati untuk membangunkannya yang sedang kecapekan luar biasa krn. pekerjaan yang menuntutnya bolak-balik 9 jam perjalanan Tuban-Jember-Tuban. Mungkin saat tidur, kepala saya 'ngglender' sehingga tak berbantal. Dan di tengah tidur, ada seseorang yang berbaik hati menyediakan bantal untuk kepala saya.

Seseorang itu adalah belahan hati saya, yang mau menerima saya apa adanya sejak EMPAT tahun silam. Yang mengikat saya dengan mahar sederhana namun bermakna. Yang dengan sungguh berani megambil pertanggung jawaban atas diri saya, dari orang tua saya. Yang menemani perjuangan saya selama 9 bulan 10 hari untuk mengasuh anak dalam kandungan. Yang rela mengorbankan waktu bersenang-senangnya demi mencari nafkah untuk saya dan anak kami. Yang mau bercapek-capek ria menempuh perjalanan Tuban - Jember dalam sehari, yang terus mengingatkan saya untuk harus jadi lebih baik, yang ... Ah, terlalu berlama-lama kiranya jika aku terus-terusan menghitung kebaikan-kebaikan si pemberi bantal.

Dialah suami saya. Memang dia tak hobi menghujaniku dengan ucapan-ucapan romantis. Tapi dia lebih senang menyiratkan hal-hal kecil untuk mengungkapkan rasa cintanya padaku.

Selesai sholat, saat dia langsung menghadap laptop lagi, kuhidangkan segelas coklat hangat. Kupeluk kakinya dan kuukir sebuah kalimat maaf untuknya. Seperti biasa, pasti dimaafkan. Horeee!

Terima kasih, cinta. Atas segala yang sampeyan berikan pada saya. Maafkan saya, atas segala ketidak mampuan saya dalam memenuhi harapan-harapan sampeyan. Maafkan juga atas kekasaran sikap saya pagi itu.

Nah, untuk pembaca yang masih setia hingga baris ini, yuk ambil hikmah dari cerita saya ini.

Hmm, terkadang kita dengan mudah menyalahkan orang lain, ya? Kalo menuruti emosi, maka pertengkaran dan saling menyalahkan akan terjadi. Dan hal itu tak akan kunjung selesai jika tak ada yang mau mengakui kesalahan dirinya. Dibalik kesalahan orang lain, pasti ada salah kita. Dibalik kemarahan suami, ada kemarahan saya. Dibalik molornya suami, ada ketidak sabaran saya. Dan lain sbgainya.

Selain itu, dibalik kesalahan orang lain, ada kebaikan-kebaikan yang tak pernah kita sadari. Beruntung pagi itu saya mau menurunkan ego dan menghilangkan emosi, sehingga terbersit kesadaran akan kebaikan-kebaikan suami sebelumnya.

Jadi, doakan saya untuk selalu bisa rendah hati memaafkan kesalahan orang lain. Karena pasti saya ikut berkontribusi dalam kesalahan itu. Dan pasti, ada kebaikan dibalik kesalahan orang lain yang sedang saya terima. Saya doakan pula anda berlaku yang sama.

Doakan pula, pernikahan saya yang hari ini menginjak tahun keempat, bisa menjadi pernikahan dunia akhirat. Sakinah, mawaddah, rohmah, dan bermanfaat. Saya doakan pula anda mendapatkan hal yang sama.

Semoga bermanfaat dan mencerahkan.

_Salam hangat_

Ny. Candra Andriawan

Selasa, 05 November 2013

makna usia... (masih prolog)



Hari ini Risky S. ulang tahun. Berhubung kedua orang tuanya bekerja di sebuah rumah makan terkenal, hidangannya berhasil membuat heboh warga sekelas. Belum lagi, Risky S. termasuk anak yang disayang teman-temannya.
Setelah berhasil meminta seluruh siswa 2 B untuk duduk membentuk lingkaran, saya memulai acara tasyakuran ulang tahun Risky S.
“Alhamdulillah, hari ini mas Risky berulang tahun. Sebelumnya, ada yang mau mendoakannya?”
Putra, sahabat Risky mengangkat tangan sambil berseru mantap, “Ris, selamat ulang tahun ya. Semoga panjang umur!”
Saya menyela, “Sebentar-sebentar... Lihat gambar ustadzah ini..”
Kemudian saya tarik perhatian para jundullah ini ke sebuah garis yang saya torehkan di papan tulis.
“Dulu, saat mas Risky lahir, begitu pula dengan semua manusia yang diciptakan Allah, telah mempunyai bekal dari Allah. Yaitu batas usia dan rejeki. Semua sudah memiliki batas usia itu... Nah, misal nih ya, mas Risky punya batas usia sampai seratus tahun. Maksudnya, mas Risky misalnya akan meninggal di usia 100 tahun...”
Aku menulis angka 100 di ujung garis disertai tawa beberapa anak.

...

(tulisan ini sedang diikutkan seleksi antologi pengalaman mengajar guru-guru Insan Kamil. Karena itu, belum semua yang ku posting. Kali aja nyantol, pembaca bisa melanjutkannya dengan membeli buku tersebut! Hehe..)

Senin, 04 November 2013

stress ujian? (baru prolog)

Bahkan saat aku sekolah, yang namanya ujian, evaluasi, tes, adalah momok! Selalu ada stress di dalamnya. Entah saat memeprsiapkan diri, saat mengerjakannya, maupun saat semua butir soal telah terjawab. Stres menunggu hasilnya maksudku!

Nah, apa pengaruh stress tersebut? Sudah mafhum bahwa stress mempengaruhi kondisi jiwa seseorang. Bahkan karena labilnya psikis, kemampuan kognitifnya pun menurun. Contoh saja, beberapa siswa yang kedapatan stress di awal evaluasi, mengalami rasa ‘ndredeg’ dan berkeringat dingin. Hal ini menimbulkan kegugupan dan pecahnya konsentrasi. Mereka jadi sering pipis, dan tak bisa fokus menjawab soal!

Parahnya, kondisi tersebut kadang ditimbulkan atau bahkan ditambahkan oleh stress orang tuanya. Saat aku membuka sebuah pagi hari evaluasi, dengan pertanyaan, “Siapa yang dimarahi ibunya saat belajar atau akan berangkat sekolah tadi?” Hampir sebagian besar akan mengacungkan jari. Lebih horor lagi, ada yang bercerita bagaimana cara orang tuanya (khususnya ibu), ‘mempersiapkan’ anak – anaknya menghadapi evaluasi.

“Aku dipukul pakai pensil!”

“Aku dicubit!”

....

(tulisan ini sedang diikutkan seleksi antologi pengalaman mengajar guru-guru Insan Kamil. Karena itu, belum semua yang ku posting. Kali aja nyantol, pembaca bisa melanjutkannya dengan membeli buku tersebut! Hehe..)

Minggu, 03 November 2013

Quiz hunter!

Sebenarnya ini berawal dari rasa penasaran pada pengarang buku cerita anak saya. Dian Kristiani. Alhamdulillah, setelah menemukannya, singkat cerita, saya nyasar ke grup yang beliau ikuti. Dan atas kuasa Allah, grup itu sedang melakukan audisi naskah.

Saya yang sok pede, akhirnya memberanikan diri untuk menyodorkan karya saya. EH, alhamdulillah, lolos! Walaupun harus revisi berkali - kali, saya menganggap inilah jalan hidup saya...(Haha, mellow banget!) Eh iya, bener lo, dari suggest yang diberikan para penulis keren tersebut, saya dapat banyak masukan, lo! Terutama bagaimana menggunakan kalimat efektif! Hihihi, secara saya ini suka melebih-lebihkan kata!

Mohon doanya, proyek audisi yang diperuntukkan untuk kegiatan sosial ini segera terwujud!

Naaaah, layaknya penggemar sambel yang walaupun merasa pedas tapi tetap ingin berpetualang dengan rasa yang menggigitlambung, saya tak berhenti. Alhamdulillah, dari grup regional tersebut, saya terdampar di grup yang lebih besar. Grup penulis anak berskala nasional. Di grup itu, saya seperti menemukan sesuatu yang hilang! Saya dapat banyak ilmu. Saya juga bertemu dengan banyak penulis hebat yang kalau menerbitkan buku itu segampang membuat status fesbuk! Coba aja mampir di grup itu tiap hari Rabu... Duh, ngiler deh.. Banyak banget buku baru yang diperkenalkan oleh pengarangnya! Disamping ngiler pengen punya bukunya, juga karna ingin seperti penulisnya!

Dan.... Esok harinya, akan ada banyak kuis untuk anggota. Disitu hadiahnya berupa buku. Coba - coba buah mangga tetangga (nyolong, dong?), saya tertarik untuk mengikuti kuis - kuis tersebut sebisa saya. Kuisnya menantang kita untuk mengeluarkan keahlian kita dalam merangkai kata. Alhamdulillah, selama ini saya sudah menang dua kali, lo!

Merasa ada peruntungan di dunia menulis, saya coba ikut klub lain. Di klub khusus penulis wanita itu, semakin horor! Ada event menulis yang menyediakan tema berbeda tiap pekannya. Jika grup penulis anak yang saya sebutkan sebelumnya mengharuskan peserta kuis menyetorkan satu kalimat sampai satu paragraf, di grup penulis muslimah ini meminta peserta menyetorkan flash fiction atau puisi. Hadiahnya berupa kesempatan ikut dalam buku antologi yang akan terbit. Alhamdulillah, sudah ada satu tulisan saya yang masuk jajaran karya layak terbit! Yeiiiy... give applause!

Nah, dari situ, muncullah keisengan saya untuk mencari lebih banyak kuis menulis! Dan ternyata, ada banyaaaaak situs yang menyodorkan kuis pada penggunanya. Saya yang sedang merangkak untuk mewujudkan keinginan menjadi penulis profesional, senang mengikuti event-event tersebut. Hadiah menjadi nomor kesekian untuk saya. Bahkan beberapa kuis yang saya ikuti, setelah naskah disetor, baru sadar untuk mencari apa sih hadiahnya? Jangan2 penerbitan yang berbayar? Hehehe...  Oia, di kuis2 tersebut, biasanya memberikan tema tulisan. Nah, dengan adanya tema, saya bisa dengan mudah mengubek-ubek memori, memainkan imajinasi, untuk menulis.

So, apa hikmah dibalik awan kali ini?

Hmm, setelah menjadai quiz hunter (pemburu kuis) saya sadar bahwa dengan adanya kenyataan bahwa ternyata banyak kuis menulis bertebaran, saya bisa meningkatkan gairah menulis saya. Ini sebenarnya sama dengan saat kita mengeluh atas masalah yang sedang kita hadapi. Sebenarnya jika mau sedikit berusaha, akan ada banyak cara untuk menyelesaikannya. Termasuk hilangnya semangat akan sesuatu hal. Carilah sebanyak - banyaknya 'fernipan' yang membuat roti2 dalam dirimu mengembang dengan indah!

Oia, selain menyertakan tema, semua kuis mensyaratkan deadline. Hal ini juga bisa jadi pembelajaran bagi kita. Satu, dengan adanya 'paksaan' kadang kita bisa lebih fokus dan maksimal. Dua, kuis itu seolah babak - babak masalah kehidupan yang harus kita hadapi. Tak ada kehidupan tanpa masalah. Justru Allah menunjukkan kasih sayang-Nya pada makhluk dengan memberi masalah. tinggal kita mau menyelesaikan masalah itu dengan indah hingga kita bisa jadi pemenang, atau 'mengerjakan'nya secara asal-asalan sehingga kita hanya bisa gigit jari saat deadline datang. Apa deadline kita sebagai manusia? Ya, kematian.